Hati ibu mana yang tidak tersentuh ketika apa yang kita ajarkan bisa diserap dengan sempurna oleh anak kita. Saya tidak bosan-bosannya mengajarkan tiga kata: terima kasih, maaf, dan tolong. Kata terima kasih tidak terlalu susah buat Erdi. Tugas saya saat ini meluruskan "acih' menjadi 'terima kasih". Agak berpikir keras juga mengajakan kata maaf dan tolong. Akhirnya saya berusaha menerapkan dua kata itu dalam keseharian saya. Lama sekali dua kata itu tidak segera muncul dari bibir Erdi.
Peristiwa tumbangnya sekeluarga menjadi celah yang cukup baik. Pada mulanya saya tidak tahu harus berbuat apa ketika Erdi mengeluh sakit. Saya hanya bisa mendekapnya sambil berkata "maaf ya sayang". Setiap kali Erdi mengeluh sakit, entah itu perutnya sedang melilit atau gusinya cenut-cenut, hanya pelukan dan ucapan kata maaf yang keluar dari bibir saya. Saya merasa begitu lemah dan tak berdaya.
Hari ini, seperti biasa, hari senin menjadi hari yang cukup melelahkan. Ayah berangkat lebih pagi. Emosi saya belum stabil atas beberapa peristiwa yang cukup menyebalkan. Diare Erdi yang masih jadi momok merupakan beban tersendiri. Ingin menyerah saja. Ingin melakukan berbagai tes. Tapi apalah gunanya hasil lab, saya tetap harus berpatokan pada kondisi Erdi.
GTM menyerang, tantrum menyerang. Saya tinggalkan Erdi di ruang tamu sejenak. Saya tidak ingin marah-marah. Toh anak masih sangat kecil. Bukan porsinya bila menjadi sasaran empuk kelabilan emosi saya. Tak ada suara apapun dari ruang tamu hingga tiba-tiba Erdi menangis menghampiri saya. Saya cek. Olaaalaaa ternyata diare... Saya bawa ke kamar mandi, saya bersihkan badannya, saya gantikan baju bersih. Saya bersihkan sofa ruang tamu (untungnya berbahan oscar).
Mau meledak aja emosi ini. Sempurna sudah hari senin pagi saya. Saya duduk mengatur emosi di ruang tengah. Erdi yang sudah bersih memandangi saya. "Ma.. af" begitu saya dengar suaranya penuh penyesalan. Saya lihat mata jernihnya. Seketika itu juga air mata ini meleleh deras. Saya peluk erat. Saya katakan "bunda sayang Erdi, iya bunda maafkan".
Yes, tinggal satu kata lagi!!
Senin, 28 November 2011
Rabu, 23 November 2011
Tumbang Sekeluarga
Harusnya kalau sudah berkumpul kembali, satu keluarga utuh, bisa dilewati dengan suka cita. Tidak demikian dengan keluarga kami. Minggu subuh, saya dan E-boy masih bisa ketawa bersama si ayah yang baru saja datang dari Jogja, membongkar aneka oleh-oleh. E-boy dapat 5 bungkus, coklat semua! Saya mencicipi kripik kulit mlinjo yang belum saya makan sebelumnya. Kalau mlinjonya sih sering. Lima butir saja cukup karena tidak kuat dangan rasa asinnya yang sungguh terlalu. E-boy pun ikut mencicipi. Kalau tidak salah hanya satu atau dua butir. Pikir saya tidak mengapa, toh tidak pedas.
Tidak disangka, magrib di hari yang sama, pencernaan saya mulai bermasalah. Diare. Saya belum panik. Karena frekuensinya masih 1-2 kali. "Ah nanti akan segera normal", kata saya dalam hati. Hari senin, diare masih berlanjut.. Doeeenggg!! Mulai lemes badan ini. Pagi itu saya mulai merasa ada yang berubah dengan E-boy. Yang biasanya menjadi si lahap. Kali ini kok makannya diemut yaaa.... Saya peluk terus dari pagi sampai siang. Pagi itu karena saya juga tidak enak badan, saya mengajak E-boy di kasur... Sekitar jam 12 siang, saya merasakan suhu badan E-boy yang meningkat drastis. 39,9 DC. Tidak ada persediaan paracetamol. Saya sms suami minta dibelikan paracetamol di apotek terdekat. Saya yang lemas hanya bisa memeluk erat, perbanyak skin to skin contact.
Paracetamol sampai rumah sekitar jam setengah dua siang. Harganya sungguh ajaib. Hanya Rp. 3.200 saja, padahal itu dua jenis obat: sirup dan tablet. Cuma hitungannya aja yang agak ribet, dalam 5 ml terkandung 120 mg. Berat badan E-boy 11,1 kg. Dan dosis paracetamol yang seharusnya diberikan adalah 10-15 mg per berat badan. Jadi tidak masalah saya beri 5 ml karena masih dalam rentang dosis yang aman (walaupun saya lebih suka memberikan dosis terendah, yaitu 10 mg per berat badan). Pemberian paracetamol hanya menurunkan 0,3 DC. Sore harinya saya coba suapi makan. Sukses dimuntahkan. Asumsi saya mungkin karena eneg. Saya ganti dengan puree apel. Habis satu mangkuk kecil.
Saya mencoba kompres air hangat, ternyata E-boy malah ndak nyaman. Mengajaknya berendam air hangat bisa-bisa tantrumnya kumat. Bingung... Karena suhu tubuh masih tinggi, maka paracetamol saya berikan lagi. Pakaian saya pilihkan yang tipis aja. Eh muntah.. Saya posisikan miring (muntah saat tidur) agar muntahannya tidak masuk ke paru-paru. Diare mulai muncul. Hampir tidak berhenti sepanjang malam. Dua lusin popok habis malam itu juga. Untungnya saya punya persediaan oralit beberapa bungkus. Saya minum untuk diri sendiri juga untuk E-boy. Saya minta tolong suami untuk membuat air rebusan kacang hijau. Kacang hijaunya dibuat bubur. Sedikit paksaan, cairan dan sedikit makanan masuk ke dalam perut E-boy.
Malam senin itu saya merasa tidak sanggup. Melihatnya begitu lemas, tidak kuat membuka kelopak mata, sungguh membuat hati teriris. Kuatir juga dengan yang namanya demam kejang. Ingin rasanya melarikan E-boy ke UGD. Tapi melihat suami begitu tenang, saya terbawa tenang juga. Suhu badan E-boy tidak bergeming di angka 38-39 DC. Setiap kali diare, saya atau suami sedikit memaksa meminumkan oralit dan air putih. Paracetamol ketiga saya berikan selasa subuh. Saya buatkan orak arik telur. Terimakasih ya Allah, masuk juga satu piring kecil. Tidak ada kejang demam. Semua berjalan dengan aman terkendali. Menjelang maghrib si ayah (yang paling banyak makan kripik kulit mlinjo) mulai diare juga... Welcome to the party, Darling... ha ha ha *ketawa garing*
Selasa siang, terjadi perbaikan. Suhu tubuh E-boy kembali normal. Nafsu makan sudah ada meskipun hanya sedikit saja. Saya tawarkan aneka jenis makanan. Roti. Yogurt. Nasi (thok tanpa lauk). Jagung rebus. Pisang. Semuanya sukses dimakan 2-3 suap. Diare masih menghantui. Namun frekuensinya sudah jauh berkurang. Heeeiiii.... saya sampai lupa kalau saya sendiri juga sedang sakit. Semoga saja diare ini segera hengkang dari kami sekeluarga...
(lanjutannya ada di Catatan Kesehatan)
Tidak disangka, magrib di hari yang sama, pencernaan saya mulai bermasalah. Diare. Saya belum panik. Karena frekuensinya masih 1-2 kali. "Ah nanti akan segera normal", kata saya dalam hati. Hari senin, diare masih berlanjut.. Doeeenggg!! Mulai lemes badan ini. Pagi itu saya mulai merasa ada yang berubah dengan E-boy. Yang biasanya menjadi si lahap. Kali ini kok makannya diemut yaaa.... Saya peluk terus dari pagi sampai siang. Pagi itu karena saya juga tidak enak badan, saya mengajak E-boy di kasur... Sekitar jam 12 siang, saya merasakan suhu badan E-boy yang meningkat drastis. 39,9 DC. Tidak ada persediaan paracetamol. Saya sms suami minta dibelikan paracetamol di apotek terdekat. Saya yang lemas hanya bisa memeluk erat, perbanyak skin to skin contact.
Paracetamol sampai rumah sekitar jam setengah dua siang. Harganya sungguh ajaib. Hanya Rp. 3.200 saja, padahal itu dua jenis obat: sirup dan tablet. Cuma hitungannya aja yang agak ribet, dalam 5 ml terkandung 120 mg. Berat badan E-boy 11,1 kg. Dan dosis paracetamol yang seharusnya diberikan adalah 10-15 mg per berat badan. Jadi tidak masalah saya beri 5 ml karena masih dalam rentang dosis yang aman (walaupun saya lebih suka memberikan dosis terendah, yaitu 10 mg per berat badan). Pemberian paracetamol hanya menurunkan 0,3 DC. Sore harinya saya coba suapi makan. Sukses dimuntahkan. Asumsi saya mungkin karena eneg. Saya ganti dengan puree apel. Habis satu mangkuk kecil.
Saya mencoba kompres air hangat, ternyata E-boy malah ndak nyaman. Mengajaknya berendam air hangat bisa-bisa tantrumnya kumat. Bingung... Karena suhu tubuh masih tinggi, maka paracetamol saya berikan lagi. Pakaian saya pilihkan yang tipis aja. Eh muntah.. Saya posisikan miring (muntah saat tidur) agar muntahannya tidak masuk ke paru-paru. Diare mulai muncul. Hampir tidak berhenti sepanjang malam. Dua lusin popok habis malam itu juga. Untungnya saya punya persediaan oralit beberapa bungkus. Saya minum untuk diri sendiri juga untuk E-boy. Saya minta tolong suami untuk membuat air rebusan kacang hijau. Kacang hijaunya dibuat bubur. Sedikit paksaan, cairan dan sedikit makanan masuk ke dalam perut E-boy.
Malam senin itu saya merasa tidak sanggup. Melihatnya begitu lemas, tidak kuat membuka kelopak mata, sungguh membuat hati teriris. Kuatir juga dengan yang namanya demam kejang. Ingin rasanya melarikan E-boy ke UGD. Tapi melihat suami begitu tenang, saya terbawa tenang juga. Suhu badan E-boy tidak bergeming di angka 38-39 DC. Setiap kali diare, saya atau suami sedikit memaksa meminumkan oralit dan air putih. Paracetamol ketiga saya berikan selasa subuh. Saya buatkan orak arik telur. Terimakasih ya Allah, masuk juga satu piring kecil. Tidak ada kejang demam. Semua berjalan dengan aman terkendali. Menjelang maghrib si ayah (yang paling banyak makan kripik kulit mlinjo) mulai diare juga... Welcome to the party, Darling... ha ha ha *ketawa garing*
Selasa siang, terjadi perbaikan. Suhu tubuh E-boy kembali normal. Nafsu makan sudah ada meskipun hanya sedikit saja. Saya tawarkan aneka jenis makanan. Roti. Yogurt. Nasi (thok tanpa lauk). Jagung rebus. Pisang. Semuanya sukses dimakan 2-3 suap. Diare masih menghantui. Namun frekuensinya sudah jauh berkurang. Heeeiiii.... saya sampai lupa kalau saya sendiri juga sedang sakit. Semoga saja diare ini segera hengkang dari kami sekeluarga...
(lanjutannya ada di Catatan Kesehatan)
Senin, 21 November 2011
Yuk.. Monggo Dimakan..
Akhir-akhir ini suami sering keluar kota secara mendadak. Saya sih berusaha ikhlas dan kuat. Mengurus segala sesuatunya sendiri memang tidak mudah. Apalagi kalau hujan deras, berangin, yang ujung-ujungnya bocor di sana-sini... huwwwaaa...
Lelah tentu saja menghampiri. Tak ada tempat mengeluh. Hanya tingkah laku E-boy yang polos penuh imajinasi menjadi satu-satunya penghibur. Malam itu seperti biasa saya menemani E-boy tidur di kamarnya. Seperti biasa juga bersahabat dengan buku-buku. Eh tak diduga ayah menelepon, berkali-kali untuk menanyakan di mana mencari coklat monggo. Saya jawab "coba tanya ke penjual di sekitar situ. Pasti banyak yang tahu". Tidak mungkin toh kalau tidak ada yang tahu wong itu produk terkenal dari Jogja. E-boy juga sempat berbicara dengan ayahnya. Coklat monggo akan didapat bila E-boy menjadi anak penurut.
E-boy langsung saja bertanya terus menerus kapan coklat monggonya sampai. Saya jawab, besok pagi ketika sudah bangun dari tidur. Teralihkan sejenak perhatiannya. Kemudian E-boy mengambil buku dan bercerita kepada saya.
E-boy: "eeyore"
Saya: "zebra sayang"
E-boy: "zebra.. zebra.. jalan-jalan.. cari monggo"
Saya: "iya, monggo, Erdi tidur dulu ya, besok makan monggo"
E-boy: "matahari.. lagi.. lagi.. tambah.."
Saya: "loh apa? tambah apa?
E-boy: "tambah.. tambah.."
Saya: (bingung) "o bunda tau.. mau nyanyi matahari terbenam?"
E-boy: "iya, nyanyi"
Duo: "matahari terbenam, hari mulai malam, terdengar burung hantu, suaranya merdu.. kukuu..kukuu.. kukukukukukuu.."
E-boy mengambil buku berikutnya. Kemudian bercerita lagi kepada saya.
E-boy: "zebra?"
Saya: "itu singa sayang"
E-boy: "singa bobo', besok monggo"
Saya: "iya sayang, besok dapat monggo setelah bobo' yaa"
Anak saya terlelap juga dengan senyum. Menunggu ayah pulang membawa coklat monggo aneka ukuran, aneka rasa. Ini bukan iklan loh yaa... Hanya menceritakan bahwa anak punya imajinasi yang kadang tak kita duga. Imajinasi yang tak boleh kita batasi. Biarkan anak berfantasi. Izinkan anak-anak bermain sampai puas, jangan batasi keinginannya untuk mencari tahu.
Subuh, beberapa menit sebelum ayah datang. E-boy bangun. Kata pertama yang diucapkannya "monggo". Jangan coba-coba bohong pada anak kecil yaaa.. Ingatannya sangat kuat! Dan saat ayah datang, E-boy senang mendapatkan banyak sekali coklat monggo. Tak disangka, coklat ini dibeli di apotek kimia farma yang berjarak kurang lebih 1 km dari Malioboro. Haa,, sejak kapan coklat jadi obat??
Saya pribadi memang kesulitan mencari coklat ini di Malang. Awal mula saya tahu ya dari milis mpasi rumahan. Waktu membahas jenis dan merk coklat apa yang bagus untuk bayi. Coklat monggo di Malang hanya bisa ditemukan di Lai Lai, itupun kadang kosong. Harus menunggu beberapa waktu untuk mendapatkan jenis coklat monggo yang kita inginkan. Saat suami ke Jawa Tengah, tentunya coklat asal Jogja ini layak untuk dipesan sebagai buah tangan...
Yuk.. Monggo Dimakan..
Lelah tentu saja menghampiri. Tak ada tempat mengeluh. Hanya tingkah laku E-boy yang polos penuh imajinasi menjadi satu-satunya penghibur. Malam itu seperti biasa saya menemani E-boy tidur di kamarnya. Seperti biasa juga bersahabat dengan buku-buku. Eh tak diduga ayah menelepon, berkali-kali untuk menanyakan di mana mencari coklat monggo. Saya jawab "coba tanya ke penjual di sekitar situ. Pasti banyak yang tahu". Tidak mungkin toh kalau tidak ada yang tahu wong itu produk terkenal dari Jogja. E-boy juga sempat berbicara dengan ayahnya. Coklat monggo akan didapat bila E-boy menjadi anak penurut.
E-boy: "eeyore"
Saya: "zebra sayang"
E-boy: "zebra.. zebra.. jalan-jalan.. cari monggo"
Saya: "iya, monggo, Erdi tidur dulu ya, besok makan monggo"
E-boy: "matahari.. lagi.. lagi.. tambah.."
Saya: "loh apa? tambah apa?
E-boy: "tambah.. tambah.."
Saya: (bingung) "o bunda tau.. mau nyanyi matahari terbenam?"
E-boy: "iya, nyanyi"
Duo: "matahari terbenam, hari mulai malam, terdengar burung hantu, suaranya merdu.. kukuu..kukuu.. kukukukukukuu.."
E-boy: "zebra?"
Saya: "itu singa sayang"
E-boy: "singa bobo', besok monggo"
Saya: "iya sayang, besok dapat monggo setelah bobo' yaa"
Anak saya terlelap juga dengan senyum. Menunggu ayah pulang membawa coklat monggo aneka ukuran, aneka rasa. Ini bukan iklan loh yaa... Hanya menceritakan bahwa anak punya imajinasi yang kadang tak kita duga. Imajinasi yang tak boleh kita batasi. Biarkan anak berfantasi. Izinkan anak-anak bermain sampai puas, jangan batasi keinginannya untuk mencari tahu.
Subuh, beberapa menit sebelum ayah datang. E-boy bangun. Kata pertama yang diucapkannya "monggo". Jangan coba-coba bohong pada anak kecil yaaa.. Ingatannya sangat kuat! Dan saat ayah datang, E-boy senang mendapatkan banyak sekali coklat monggo. Tak disangka, coklat ini dibeli di apotek kimia farma yang berjarak kurang lebih 1 km dari Malioboro. Haa,, sejak kapan coklat jadi obat??
Saya pribadi memang kesulitan mencari coklat ini di Malang. Awal mula saya tahu ya dari milis mpasi rumahan. Waktu membahas jenis dan merk coklat apa yang bagus untuk bayi. Coklat monggo di Malang hanya bisa ditemukan di Lai Lai, itupun kadang kosong. Harus menunggu beberapa waktu untuk mendapatkan jenis coklat monggo yang kita inginkan. Saat suami ke Jawa Tengah, tentunya coklat asal Jogja ini layak untuk dipesan sebagai buah tangan...
Yuk.. Monggo Dimakan..
Minggu, 20 November 2011
Pelajaran Besar
Pengalaman ini terjadi beberapa hari lalu saat saya belanja ke salah satu supermarket di Malang. Seperti biasa saya berangkat dengan uang tunai secukupnya (tips irit ala bu Vera no 1). Tidak disangka solar habis, mampir dulu ke SPBU.
Setelah sampai di supermarket tujuan.. Eh Erdi sedikit berulah. Biasanya duduk manis di troli. Kali ini minta jalan sendiri. Dan ngotot minta mendorong troli. Saya iya-kan saja daripada heboh dan batal belanja. "Terima kasih ya sayang sudah membantu mendorong troli. Erdi anak hebat! Hati-hati loh ya,, dorongnya yang lurus". Begitu ucap saya ke E-boy. Kami jadi pusat perhatian. Tentu saja artisnya adalah E-boy yang saat itu memakai baju batik dan sepatu boots.
Saya membeli keperluan sesuai yang ada di daftar belanja (tips irit ala bu Vera no 2). Boleh lah membeli satu atau dua barang di luar anggaran asal harganya hanya beberapa ribu rupiah saja (jangan beberapa puluh ribu yak, bisa bangkrut ntar). Semua sudah ada di troli saatnya menuju kasir. E-boy ikut ayah dulu sejenak.
Pelajaran besar dimulai saat di kasir. Semua sudah dihitung. Dan saya cukup kaget dengan nominalnya yang melebihi uang tunai yang saya miliki di dompet. Dag dig dug jantung ini. Otak berpikir cepat, hanya ada dua opsi, yaitu meminta suami mengambil uang di ATM atau membatalkan beberapa barang. Reflek saya meminta kasir untuk meneliti kembali.
Saya: "yakin tidak ada yang salah mbak? tolong dicek ulang"
(maksudnya untuk memberi waktu buat saya berfikir langkah apa yang akan saya ambil).
Kasir: "oia mbak (heiii saya sudah ibu-ibu loh!), ada satu barang yang salah hitung, ini ada ikan belanak"
Saya: "harganya berapa itu mbak?"
Kasir: "52.000 mbak"
Untunglah tidak jadi rugi. Tidak jadi ambil uang di ATM. Tidak jadi membatalkan barang yang sudah diambil. Sepertinya lain kali saya harus lebih kritis lagi. Saat di kasir harus melototi satu persatu barang yang dihitung. Bisa jadi bar code-nya yang salah, bisa jadi human error. Pengalaman belanja yang tak akan terlupa ini... Dag dig dug-nya itu loh yang gak kuat ^^,
Setelah sampai di supermarket tujuan.. Eh Erdi sedikit berulah. Biasanya duduk manis di troli. Kali ini minta jalan sendiri. Dan ngotot minta mendorong troli. Saya iya-kan saja daripada heboh dan batal belanja. "Terima kasih ya sayang sudah membantu mendorong troli. Erdi anak hebat! Hati-hati loh ya,, dorongnya yang lurus". Begitu ucap saya ke E-boy. Kami jadi pusat perhatian. Tentu saja artisnya adalah E-boy yang saat itu memakai baju batik dan sepatu boots.
Saya membeli keperluan sesuai yang ada di daftar belanja (tips irit ala bu Vera no 2). Boleh lah membeli satu atau dua barang di luar anggaran asal harganya hanya beberapa ribu rupiah saja (jangan beberapa puluh ribu yak, bisa bangkrut ntar). Semua sudah ada di troli saatnya menuju kasir. E-boy ikut ayah dulu sejenak.
Pelajaran besar dimulai saat di kasir. Semua sudah dihitung. Dan saya cukup kaget dengan nominalnya yang melebihi uang tunai yang saya miliki di dompet. Dag dig dug jantung ini. Otak berpikir cepat, hanya ada dua opsi, yaitu meminta suami mengambil uang di ATM atau membatalkan beberapa barang. Reflek saya meminta kasir untuk meneliti kembali.
Saya: "yakin tidak ada yang salah mbak? tolong dicek ulang"
(maksudnya untuk memberi waktu buat saya berfikir langkah apa yang akan saya ambil).
Kasir: "oia mbak (heiii saya sudah ibu-ibu loh!), ada satu barang yang salah hitung, ini ada ikan belanak"
Saya: "harganya berapa itu mbak?"
Kasir: "52.000 mbak"
Untunglah tidak jadi rugi. Tidak jadi ambil uang di ATM. Tidak jadi membatalkan barang yang sudah diambil. Sepertinya lain kali saya harus lebih kritis lagi. Saat di kasir harus melototi satu persatu barang yang dihitung. Bisa jadi bar code-nya yang salah, bisa jadi human error. Pengalaman belanja yang tak akan terlupa ini... Dag dig dug-nya itu loh yang gak kuat ^^,
Sabtu, 19 November 2011
Stres?
Untuk sementara, saya cukup puas. Bisa dipakai dengan bangga. Kalau nanti sudah bosan bisa dibongkar dan dikreasikan dengan bentuk yang lain lagi loh...
Rabu, 16 November 2011
Emosi
Hidup gak selamanya seneng, gak selamanya susah. Pas ketemu situasi-situasi gak enak, bisa jadi kita emosional. Duh, susah bener mengontrol emosi. Kita bisa baca segunung teori, kita bisa berguru ke sejuta orang. Hasilnya akan nihil kalau kita gak pernah praktek gimana caranya ngontrol emosi..
Saya bukan bidadari, bukan malaikat, apalagi Tuhan.. Gempang banget emosi naik untuk hal-hal yang sebetulnya lumrah. Pas nidurin anak aja bisa meningkatkan emosi (E-boy susah tidur kawan-kawan,, ada aja ulahnya. Suka menjatuhkan badan ke saya, akibatnya lebam-lebam lah). Iya, udah pinter untuk nahan supaya gak mukul, gak nyubit, gak main fisik lah intinya. Tapi tetep aja ngelempar barang, guling tepatnya *tampang penuh dosa*. Punya anak di usia 2 tahun-an ini gampang-gampang susah. Tantrum menghantui, bagian dari tumbuh kembang anak. Bagaimana menyikapinya pun dengan segambreng teori (yang kadang-kadang raib entah ke mana saat emosi melanda).
Meninggalkan "area pertempuran" sangat membantu saya menenangkan emosi. Mengatur nafas pelan-pelan sampai detak jantung kembali normal dan pikiran kembali terang. Tangisannya pun masih terdengar keras tapi sudah tak cukup membuat saya kehilangan kontrol diri. Saya kembali menghadapi tantrumnya, kembali ke kamarnya, merendahkan badan hingga bisa menatap ke dalam matanya.
Saya: "Erdi, anak penurut?" ----> saya terbiasa mendefinisikan karakter anak
E-boy: "penurut" dengan isak tangis
Saya: "bobo' yuk! Bunda minta maaf ya sayang sudah marah-marah" memeluk erat
E-boy: "bunda maaf, bunda maaf"
The End-
[hari ini harus lebih baik dari hari kemarin!]
Saya bukan bidadari, bukan malaikat, apalagi Tuhan.. Gempang banget emosi naik untuk hal-hal yang sebetulnya lumrah. Pas nidurin anak aja bisa meningkatkan emosi (E-boy susah tidur kawan-kawan,, ada aja ulahnya. Suka menjatuhkan badan ke saya, akibatnya lebam-lebam lah). Iya, udah pinter untuk nahan supaya gak mukul, gak nyubit, gak main fisik lah intinya. Tapi tetep aja ngelempar barang, guling tepatnya *tampang penuh dosa*. Punya anak di usia 2 tahun-an ini gampang-gampang susah. Tantrum menghantui, bagian dari tumbuh kembang anak. Bagaimana menyikapinya pun dengan segambreng teori (yang kadang-kadang raib entah ke mana saat emosi melanda).
Meninggalkan "area pertempuran" sangat membantu saya menenangkan emosi. Mengatur nafas pelan-pelan sampai detak jantung kembali normal dan pikiran kembali terang. Tangisannya pun masih terdengar keras tapi sudah tak cukup membuat saya kehilangan kontrol diri. Saya kembali menghadapi tantrumnya, kembali ke kamarnya, merendahkan badan hingga bisa menatap ke dalam matanya.
Saya: "Erdi, anak penurut?" ----> saya terbiasa mendefinisikan karakter anak
E-boy: "penurut" dengan isak tangis
Saya: "bobo' yuk! Bunda minta maaf ya sayang sudah marah-marah" memeluk erat
E-boy: "bunda maaf, bunda maaf"
The End-
[hari ini harus lebih baik dari hari kemarin!]
Senin, 14 November 2011
Hasil Belajar Bermain Kawat
Jaman dulu,, tak ada pikiran kawat bisa dibentuk menjadi sesuatu yang artistik. Kirain cuma bahan bangunan aja *big grin*
Perkenalan pertama dengan kata wire jewelry itu setahun yang lalu. Hanya sebatas menengok, sudah punya keinginan belajar. Sayangnya anak masih bayi, tidak bisa disambi ini itu. Semua waktu dan perhatian hanya untuk anak (maaf bojoku sayang). Sekitar tiga bulan ke belakang, saya menemukan batu-batu cantik bekas kalung saya yang rusak, ada beberapa rantai... Istilah suami "kanibalism". Intinya saling menukar, saling mengganti hingga didapat hasil yang kita inginkan. Perhiasan pertama yang saya buat sangat sederhana. Sekedar merangkai saja. Satu set yang terdiri dari gelang, anting, dan kalung. Di bawah ini fotonya yaa....
Kesempatan untuk belajar nguwer-nguwer kawat datang juga. Seperti cerita saya di sini. Belajar perlu proses, perlu waktu. Saya ingin belajar secara mandiri dulu, belum berniat mengikuti kursus secara khusus. Beberapa hasil jepretan teknik-teknik yang diasah dalam ber-kawat ria sudah bisa diintip.




Masih jauh dari kata bagus, tapi sungguh kepuasan tersendiri buat saya pribadi *telunjuk kanan yang masih kapalan*
[Karya yang lain adalah jepit rambut]
Perkenalan pertama dengan kata wire jewelry itu setahun yang lalu. Hanya sebatas menengok, sudah punya keinginan belajar. Sayangnya anak masih bayi, tidak bisa disambi ini itu. Semua waktu dan perhatian hanya untuk anak (maaf bojoku sayang). Sekitar tiga bulan ke belakang, saya menemukan batu-batu cantik bekas kalung saya yang rusak, ada beberapa rantai... Istilah suami "kanibalism". Intinya saling menukar, saling mengganti hingga didapat hasil yang kita inginkan. Perhiasan pertama yang saya buat sangat sederhana. Sekedar merangkai saja. Satu set yang terdiri dari gelang, anting, dan kalung. Di bawah ini fotonya yaa....
Kesempatan untuk belajar nguwer-nguwer kawat datang juga. Seperti cerita saya di sini. Belajar perlu proses, perlu waktu. Saya ingin belajar secara mandiri dulu, belum berniat mengikuti kursus secara khusus. Beberapa hasil jepretan teknik-teknik yang diasah dalam ber-kawat ria sudah bisa diintip.
Masih jauh dari kata bagus, tapi sungguh kepuasan tersendiri buat saya pribadi *telunjuk kanan yang masih kapalan*
[Karya yang lain adalah jepit rambut]
Langganan:
Postingan (Atom)

