Tampilkan postingan dengan label My Mini Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Mini Life. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Agustus 2014

Pengalaman ber-Hair Chalk Ria

Mengalami hari-hari berambut tidak menyenangkan selama periode menyusui itu benar-benar boros kepercayaan diri ya? Sejak 2-3 bulan setelah melahirkan, rambut saya rontok parah. Untung tidak jadi botak. Kemudian 9-10 bulan setelah melahirkan, rambut-rambut mini tumbuh subur. Jabrik!! Bikin tampilan saya sedikit tidak terawat. Gak PD, takut bikin suami bosan bahkan eneg jadi momok. Tebal-tebalin rasa percaya diri dah.

Eh saudara sepupu kapan hari memamerkan foto rambut ombre-nya yang super keren. Status lajang itu selalu bikin iri. Bebas merdeka mau apa saja. Tanpa harus memikirkan suami dan anak-anak. Kembali ke rambut ombre, segera saya bertanya. Olalalaaaaa... saudara sepupu saya ini ternyata bikin sendiri. Memesan catnya dari negara tetangga. Hmmm... mupeng tingkat dewa. Tapi karena saya lagi trauma mendatangkan barang dari luar negri jadinya ditunda sajalah membeli cat ombre itu....

Emak-emak semacam saya ini pasti ada jenuhnya, ada betenya kalau pas ngaca. Curhat lah saya ke kanan kiri. Nah, perbincangan tentang rambut dengan neneknya anak-anak berujung pada order. Satu paket hair chalk isi 36 warna plus catok mini imut warna pink (saya bukan penyuka pink saudara-saudara). Tentu bongkar-bongkar yutup dulu dong sebelum order... hehe he.... Nekad saja lah, toh saya juga suka eksperimen. Suami gak bawel tuh kalau saya pas belanja online. Asal disogok ciuman dan pelukan huehuehue.... (yakin cuma itu aja sogokannya?!)

Selasa, jam 7 pagi
"Mbak Veraaaaaaaaa", suara cowok renyah dan lantang. Siapa yang mengira kalau itu suara kurir. Setia mengantar barang ke rumah kami kurang lebih setahun belakangan. Kurir ini kadang ajaib. Suka mengantar barang di luar jam kerja. Pernah mengantar paket di malam hari. Ternyata emang si kurir ini adalah tetangga belakang rumah sono yang biasa sholat jumat di masjid sebelah. Halaaaah... Tapi enak loh kalau kurir terhitung tetangga sendiri. Paket kita bakal sampai walau rumah sedang kosongan.

hair chalk dan catok mini pinky

patah-patah.. maklum gak dibungkus bubble wrap

Meski hari selasa ini ada jadwal segambreng, dan mumpung suami masih mandi+E-baby masih tidur maka saya pun langsung mencoba. Gampang kok (ini video contekannya). Yang perlu disiapkan terlebih dahulu adalah air dalam botol yang bisa disemprotkan, handuk/lap untuk membersihkan catok mini. Mari kita mulai (panaskan catok sebelumnya yak):
1. Ambil sejumput rambut
2. Pilin-pilin rambut tersebut
3. Semprot pilinan rambut hingga basah seluruhnya
4. Pilih hair chalk dengan warna sesuai mood
5. Warnai rambut searah saja dari atas ke bawah
6. Keringkan hasil pewarnaan dengan catok

Bagaimana hasilnya?? Sesuai dugaan awal. Warna dari hair chalk kurang terlihat di rambut saya yang hitam pekat. Saya mencoba banyak warna, dengan sistem ombre. Mudah sekali aplikasinya kok hanya saja kurang terlihat di rambut saya. Mungkin kalau rambut anda berwana pirang akan lebih tampak warna-warni indah dari hair chalk ini. Suami juga bikin hati melempem "lah kok kayak uban?". Deuuuh.... satu catatan, kalau pakai hair chalk, rambut akan kering. Dan merk ini gampang sekali luntur. Setelah diaplikasi di rambut, jangan disentuh-sentuh lagi. Pasti akan tertransfer ke tangan. Saat disisir pun, warna-warni nya jadi pindah ke sisir.

Kurang lebih setengah jam saya mencoba. Sebenarnya ingin saya pakai menjalankan aktivitas seharian. Karena suami bilang seperti uban, pas mandi sekalian aja keramas. Dan tersapu lah semua warna itu dari rambut saya. Saat saya bolak-balik kemasan hair chalk yang baru saja sampai. Kaget juga. Kok tidak ada pernyataan untuk digunakan di rambut?? Akhirnya saya bolehkan E-boy memakainya dan memilikinya. E-boy yang sepanjang saya eksperimen selalu melihat dengan takjub dan memilihkan warna jadi bahagia luar biasa.

for use on paper and card


Sampai rumah sudah sangat sore. E-boy segera ambil kertas dan bereksperimen dengan hair chalk. Ingin sih eksperimen lagi mengingat yang pagi sebelumnya tidak sempat potret memotret hasilnya... tetapi badan sudah sangat lelah. Pekerjaan lain memanggil-manggil dengan keras. Saya biarkan E-boy bereksperimen di ruang lain. E-boy cukup paham kalau harus merapikan segalanya setelah selesai memakai. Intip yuk hasil coretan E-boy yang dipamerkan ke bundanya:

entah E-boy menggambar apa

Rabu, jam 8.30 pagi
Saya sibuk dengan tumpukan cucian baju yang harus dipilah-pilih, mana yang harus diseterika dan mana yang cukup dilipat saja. Kertas hasil karya E-boy tertinggal di atas meja. Saya pikir tidak akan menimbulkan banyak masalah. Tak seberapa lama, E-baby sudah berdiri berpegangan di meja. Tampak asyik melihat kertas hasil karya kakaknya. Saya hilir mudik ke sana ke mari memasukkan semua pakaian ke dalam lemari masing-masing. Saya tahu, saya sadar, anak bungsu saya menggerak-gerakkan tangan bak pelukis senior di atas kertas hasil karya si sulung.

Dan beberapa kali saya amati, E-baby mengelapkan tangan ke rambut dan wajahnya. Di detik ini saya berhenti dan tersenyum manis. Sedetik kemudian.... berteriak lah saya.... "adeeeeeeeekkk!". Dan otomatis kamera sudah di tangan. Saya abadikan beberapa foto sebelum kertas itu saya jauhkan dari tangan E-baby. Ini dia hasil jepret-jepret saya mengabadikan si bayi seniman yang sedang beraksi:

tampak atas

tampak samping

tampak depan

Puas betul ya bayi ini? Bangga pada hasil ombre bikinannya sendiri di rambutnya sendiri dengan caranya sendiri. Fiiiuuuuuhhh..... Buru-buru saya angkat si E-baby, melepas semua baju dan memandikannya. Mengapa? Karena saya tidak yakin apakah produk ini tidak beracun. Setelah memandikan, segera saya susui dan menidurkannya. E-boy juga agak kaget dengan ulah adiknya. Hanya bisa berseru "adik.... adik" sambil geleng-geleng kepala. Seru ya pengalaman saya dengan sebuah produk?!! Percaya deh kalau sudah jadi ibu itu, segala ke-ajaib-an dunia akan abadi di genggaman tangan.

Terima kasih sudah mampir di sini ^_^

Jumat, 25 Juli 2014

[Lanjutan] Pertanyaan Sulit

Sebenarnya ingin menulis tentang tahapan-tahapan dalam sebuah perkawinan. Tetapi malam ini tidak mau membahas sesuatu yang berat,,  jadi meneruskan tulisan yang lalu saja ya... Percakapan utuh saya dengan si sulung tentang tulisan tengwar yang terlukis di cincin kawin kami.

aksara tengwar di jari manis tangan kanan kami

(S: saya dan E: si sulung)
E: "bunda, cincin bunda bagus. ini tulisannya apa? sama kayak punya ayah ya?"
S: "iya. namanya tulisan tengwar. dulu ayah bunda memesan. terus dipakai saat menikah."
E: "pas ayah bunda menikah, Erdi di mana bunda?"
S: "hmmmm..... waktu itu mas Erdi masih di surga. dekat dengan Allah. setelah ayah dan bunda menikah, Allah meletakkan mas Erdi di perut bunda. trus mas Erdi lahir seperti adik Ecio lahir."
E: "ooo.. gitu ya bunda"

Hingga detik ini, percakapan itu menari-nari di kalbu. Apakah tepat jawaban tersebut? Apakah mampu diterimanya? Mungkin dengan diamnya saat itu, otak mungilnya bekerja cukup berat. Oh E-boy tersayang, mengapa engkau cepat sekali bertumbuh besar. Belum puas bundamu ini mendekap, menciumimu, membelai, dan bermanja. Sekarang engkau mulai memikirkan di mana dan bagaimana kemunculanmu di dunia yang fana ini... Ya Allah, bimbinglah kami untuk membesarkan, merawat, mengisi anak-anak titipan-Mu ini dengan penuh kesabaran dan segala kebaikan. Aamiin YRA.

Kamis, 26 Juni 2014

Pertanyaan Sulit

tengwar in reality
Berproses!

Itu yang saya lakoni beberapa bulan belakangan. Berproses untuk jadi lebih sabar. Lebih bisa menerima keadaan. Tidak banyak mengeluh di situasi-situasi yang tidak saya inginkan. Capek benar rasanya. Hati dan ragawi. Menjaga semua terkendali dan tidak lepas emosi sungguh pekerjaan yang tidak mudah.

Duuuuh!!
Kok tiba-tiba mata jadi tergenangi air. Cengeng memang salah satu perhiasan wanita. Sudah lamaaaa sekali rasanya tak memperhatikan apa yang ada di relung sanubari. Seakan terpisah dari keberadaan "saya". Saya sebagai individu tanpa embel-embel gelar istri dan ibu. Maka izinkan diri ini untuk bertemu kangen dengan "saya".

Setelah mengambil nafas panjaaaaaang.., sekeping ingatan saya melayang ke percakapan isya' tadi. Putra sulung saya yang hampir lima tahun umurnya, tergelitik bertanya mengenai cincin yang saya kenakan. Cincin kawin bertuliskan huruf tengwar. Sebenarnya perkara sederhana. Tetapi semuanya berubah menjadi pertanyaan-pertayaan sulit.

Pertanyaan-pertanyaan yang menjawabnya saja membuat saya terdiam beberapa detik. Memikirkan jawaban apa yang tepat untuk anak seusianya. Dan sekarang jawaban-jawaban itu berputar-putar kembali di otak. "Bunda, Erdi di mana saat bunda menikah dengan ayah?".

Kira-kira jawaban apa yang saya berikan saat itu?


[bersambung di sini]

Jumat, 23 Mei 2014

Menikah

Sekian lama absen dari dunia per-blog-an bukan berarti saya tenang. Terkadang rasa kangen nge-blog menyelinap sebentar dan pergi lagi. Tetapi entah mengapa sejak kemarin malam, kerinduan untuk kembali menulis itu hadir. Tak bisa ditahan. Bisa-bisa jadi jerawat kalau saya tak menyempatkan untuk menulis beberapa kata. Beberapa kalimat. Beberapa paragraf.

Punya bayi lagi, yang notabene kehadirannya adalah kejutan dari Allah, membuat fokus dan perhatian saya hanya untuk ia seorang. Di kala malam tiba, yang biasanya adalah saat favorit membuat tulisan, saya kerap kali tertidur kelelahan. Atau hanya diam saja melihat anak-anak saya tidur. Luar biasa sekali melihat interaksi anak-anak saya ini. Sampai detik ini belum ada kesulitan berarti.

mengamati anak-anak tidur jadi hobi baru di malam hari

Kembali ke rasa kangen untuk menulis. Kali ini saya ingin menceritakan sesuatu yang ringan tentang menikah. Bukan sesuatu yang serius sih. Hanya percakapan saya dengan anak sulung di suatu siang. Hanya saya dan si sulung saja. Si bungsu telah terlelap di peraduannya. Cukup terkejut juga ya ketika si sulung membahas pernikahan ini. Begini percakapan yang terjadi (S=saya, E=si sulung)
E: "Bunda, kalau nanti Erdi sudah besar. Besar se-ayah, Erdi mau menikah sama bunda"
S: (terdiam, bingung mau menjawab apa, mencoba menerka mau ke mana arah pembicaraan ini) "Loh... kenapa mau menikah sama bunda?"
E: "Iya, menikah sama bunda. Bunda yang cantik. Cantiiiiiiiik sekali"
S: "Nak, kalau mas Erdi sudah besar, bunda juga sudah tua. Bunda akan seperti nenek"
E: "Salah! Bunda salah! Bunda tetep cantik"
S: "Mas Erdi menikah aja sama yang seumur dengan mas Erdi. Jangan sama bunda. Bunda sudah tua nanti. Gak cantik lagi"
E: "Gak mau! Pokoknya mas Erdi mau menikah ama bunda!"
S: "Laaaaa... ayah nanti sama siapa?"
E: "Ayah menikah sama adik aja. Erdi menikah sama bunda!"

Sampai di sini saya putuskan untuk diam dan tidak melanjutkan pembicaraan. E-boy sudah mulai memeluk saya erat. Ketika suami pulang di sore hari, saya minta E-boy untuk menceritakan kembali. Tujuan saya sih bukan untuk meluruskan apa itu pernikahan. Dan bagaimana memilih pasangan yang baik. Tetapi untuk melatih kemampuan E-boy bercerita. Berkomunikasi.

Suami sih ketawa. Pakai ngakak. Dengan pesan "Mas Erdi cari aja yang seumuran. Yang sama-sama muda". Tentu saja, anak sulung saya tetap ngotot ingin menikahi istri ayahnya. Ajaib sekali perjalanan menjadi ibu ini. Ibu dari dua orang anak lelaki. Tak bisa diuntai dengan kata-kata bagaimana ajaibnya. Saya jadi bertanya-tanya keseruan apa yang menanti di depan nanti. Apa saya jadi super tomboy di masa depan nanti?

Sekian cerita ringan saya... Sampai jumpa di tulisan selanjutnya ya... Semoga saja bisa segera mengisi lagi blognya Erdi dan Ecio.

Kamis, 06 Maret 2014

Pancake Durian: Refleksi Ibu Tidak Berkerja

pancake durian
Tidak bekerja sudah menjadi pilihan saya. Bukan perkara mudah memutuskan untuk berhenti beraktivitas di luar rumah. Tentunya setelah dipikir masak-masak. Harus bisa menerima segala kebaikan dan berdamai dengan berbagai bentuk ketidak-baikkan seorang ibu tidak bekerja. Apakah saya menyesal? Tidak sedikit pun. Pandangan, komentar, serta cibiran sudah tidak mengganggu kalbu saya lagi. Dulunya, saya jadi geram setiap mendengar kalimat-kalimat "yakin lu nganggur doang di rumah?" atau "ntar lu tambah bego loh kalau cuma di rumah aja" atau "ya ampun.. dunia lu gelap amat".

Saya sebal dan geram karena pernyataan mereka itu hanya berdasarkan sudut pandang mereka saja. Tidak melihat bagaimana sesungguhnya kehidupan saya. Padahal saya jauh lebih sehat dan jauh lebih bahagia ketika memutuskan untuk di rumah saja. Apalagi ketika satu persatu anak-anak hadir. Melengkapi sempurnanya biduk rumah tangga. Semburat warna yang ada semakin merona. Memberikan yang terbaik buat anak sungguh tak tergantikan. Lalu apakah saya nganggur saja di rumah? Apakah saya bertambah bego? Dunia saya gelap gulita?

Dengan jujur saya menjawab bahwa saya tidak menganggur di rumah. Perkejaan domestik banyak. Bahkan beberapa pekerjaan kecil suami bisa saya kerjakan. Semacam koreksi hasil ujian mahasiswa, membuat laporan keuangan untuk penelitian A-Z. Membantu belanja keperluan pelatihan, dll yang berkaitan dengan pekerjaan suami. Boleh lah disebut sebagai asisten/sekretaris (paling) handal-nya suami. Gak ada nganggur-nya tuh. Malah banyak kekurangan waktu. Kekurangan tenaga untuk menyelesaikan semuanya. Ini yang dikatakan semangat dan energi tidak sebanding dengan pekerjaan.

Mengenai bego atau enggak... Biarlah anak-anak saja yang jadi buktinya. Ketika satu-dua-tiga teman saya yang statusnya adalah ibu bekerja mengeluh: kenapa anaknya begini, kenapa begitu.... Saya bersyukur sekali tidak mengalami hal-hal yang dikeluhkan tersebut. Saya bisa punya banyak kesempatan dan waktu untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan tumbuh-kembang anak. Saya bertambah pintar dalam hal mengasuh anak. Merawat anak yang sedang sakit sudah menjadi keahlian saya. Minat-minat di bidang lain juga bisa tergali. Hobi-hobi tersalurkan dengan puas. Lalu "apakah dunia saya gelap?". Tolong simpulkan sendiri yaa....

Bekerja bukan melulu masalah uang. Saya membaca puisi indah tentang bekerja karya Kahlil Gibran di sini, saya petik sedikit ya:
 jikalau kau bekerja dengan rasa cinta,
engkau menyatukan dirimu dengan dirimu,
kau satukan dirimu dengan orang lain, dan sebaliknya,
serta kau dekatkan dirimu kepada Tuhan
Saya yang memutuskan tidak bekerja ini berusaha untuk tidak memusingkan masalah uang. Tetapi, bila berhadapan dengan anak-anak yang notabene masih berupa raja dan ratu egois, maka uang bisa menjadi sedikit rumit. Orang tua mana yang tidak ingin memenuhi semua kebutuhan atau keinginan anak-anaknya? Beberapa hari ini putra sulung saya merengek-rengek meminta pancake durian. Jenis jajanan ini bukan jajanan yang bisa dibeli sewaktu-waktu. Harganya cukup menguras isi dompet lah ya...

Sebagai ibu, saya berusaha membuat anak-anak mengerti bahwa uang tidak mudah didapat. Harus bekerja dulu untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup. Harus menabung untuk bisa memenuhi keinginan sekunder atau tersier. Dari rengekan putra sulung saya tersebut, yang sesuai dengan judul di atas: pancake durian, saya selipkan pesan moral. Berikut percakapan yang terjadi kemarin pagi dan dilanjutkan siang tadi... [S: saya, E: putra sulung]
E: "bunda, Erdi mau pancake durian"
S: "bunda gak punya uang sayang, pancake durian kan mahal."
E: "harus punya! bunda punya uang loh!"
S: "oke, bunda kerja dulu ya untuk cari uang. Biar mas Erdi bisa beli pancake durian."
E: "mmmm...." sambil berfikir
S: "mas Erdi jaga adik Ecio di rumah ya, bunda mau cari uang yang banyak."
E: "jangan...." lalu memeluk saya
S: "trus? mas Erdi kan mau beli pancake durian, uangnya dari mana coba?"
E:  "uang dari ayah aja.. biar ayah yang kerja. Bunda gak usah kerja, di rumah aja sama Erdi sama adik" pelukannya semakin erat
Pagi itu pun kami berpelukan sambil senyum-senyum bersama. Detik itu putra sulung saya belajar tidak lagi merengek. Belajar menerima alasan. Karena berpisah tiap hari dari ayah yang bekerja cukup tidak menyenangkan. Waktu bermain dengan ayahnya jadi sangat terbatas.

Dan siang ini, saya mulai sibuk membuat perincian dana yang akan disetor ke montir di hari berikutnya. Banyak hal yang perlu disiapkan. Mulai dari pakaian, bekal, nota, kuitansi, dan uang (tentunya) yang terbagi ke dalam amplopnya masing-masing. Cukup pusing lah ya mengelola uang. Perlu konsentrasi besar agar uang terhitung benar dan tidak terselip. Putra sulung saya sudah lebih dewasa. Sudah lebih mengerti akan kesibukan bunda-nya. Memberi saya waktu dan ruang untuk fokus menyiapkan segala keperluan untuk esok pagi. Esok di mana kami berempat menghabiskan sepanjang hari di jalanan, memenuhi banyak target. 
S: "bunda kerja dulu ya sayang."
E: "kerja di mana bunda?" menatap saya, mulai bingung, kuatir ditinggal di rumah
S: "di depan komputer sayang, di depan buku" sambil menunjuk-nunjuk notes dan kuitansi plus amplop-amplop
E: "iya bunda" lalu meninggalkan saya yg mulai sibuk mencatat dan menghitung uang
Kemudian saya hilir mudik memasukkan amplop, kuitansi, alat tulis , baju-baju untuk dua anak, camilan, dan banyak barang lagi ke dalam beberapa tas (enak kali ya kalau punya caravan).

Biasanya saya harus begadang. Bekerja dan menyiapkan segala keperluan bepergian di malam hari agar tidak diganggu si sulung. Tetapi sekarang, semuanya semakin mudah. Tidak tahu juga kalau nanti si bungsu berumur 2-3 tahun he he he.... Sekian cerita saya. Setiap keputusan, baik itu ibu bekerja atau tidak, selalu ada sisi positif dan negatifnya. Kalau sisi-sisi positifnya bisa kita terima dengan berbahagia.. maka pintar-pintarlah berdamai dengan segala sisi negatifnya. Tak ada yang sempurna. Tak ada yang lebih baik dari yang lain. Mau bekerja atau tidak, sesuaikan saja dengan kondisi masing-masing keluarga.

Selamat menanti akhir pekan yang indah yaaa...

Rabu, 05 Maret 2014

E-boy vs E-baby

Sedikit dari kehebohan anak-anak di keseharian kami...
Biang keroknya siapa ya?



Terima kasih sudah mampir di sini
Vera

Jumat, 07 Februari 2014

07022014: Welcome Home Jeep

Tahun ke-7 bersama suami dirayakan dengan kembalinya Jeep bersama kami. Hampir 16 bulan Jeep tak di rumah. Selama kurun waktu itu pula kami merasakan betapa repot dan nikmatnya tanpa kendaraan. Betapa suka duka menggunakan kendaraan umum hampir menjadi makanan sehari-hari. Ribetnya meminjam kendaraan membuat kesabaran menjadi naik level. Sebenarnya niat awal hanya memperbaiki si Jeep, tetapi dengan bergulirnya waktu, si Jeep dimodifikasi, dibangun ulang, dan akhirnya di-custom sesuai diri saya... Nanti lah ya akan saya tuliskan secara terpisah bagaimana proses rebuilding Jeep yang memakan waktu dan biaya yang tak sedikit.

tampilan Jeep bersama kami yang masih mesra

Kalau ingat jaman dulu itu serasa bagaimana gitu yaaa..... Masa pendekatan yang tak terlalu lama. Banyak pertengkaran untuk bisa menyatukan visi dan misi. Tentunya pertengkaran demi pertengkaran itu ada dalam institusi yang disebut pernikahan. Lucu sekali jaman itu. Jaman di mana perceraian kadang muncul di jidat. Sekarang sih sudah ada dua jagoan yang lucu. Yang kehadiran ayah bunda bersifat mutlak. Apapun masalah yang hadir, semoga kami tetap utuh. Jeep-nya pun tetap utuh. Gak diprotoli lagi menjadi kepingan-kepingan terkecil lah yaa.....

deuh suami tersayang... mesra dikit lah dengan istrinya yang cantik mulus ini

Tampilan Jeep yang sekarang lebih lucu... Warna gelap dan terang dipadukan. Yang membuat saya amat nyaman adalah: bebas pakai high heels *senyum puas*. Dulu jangan harap bisa pakai sepatu berhak runcing dah,,, pasti banyak tersangkutnya saat akan masuk ke dalam Jeep. Mau tau best part-nya? Yang membuat si Jeep itu "gue banget" (dan saya yakin gak bakal ada yang ngembarin di seluruh alam jagad raya).. Diintip yuuuuukkkk di foto berikut ini:

the best part: kepala pooh 3D

Sementara sudah cukup puas dan lega ketika si Jeep pulang, bisa dipakai ke sana ke sini mengurusi banyak hal. Meski masih banyak kekurangan dan belum sempurna betul sebagai kendaraan pengangkut anak-anak. Tetapi pelan-pelan akan disesuaikan dengan kebutuhan dan kesibukan kami yang makin menjadi-jadi. Selamat berakhir pekan dan semoga rakyat Indonesia (di mana pun berada) diberi kekuatan, ketabahan dalam melewati berbagai bencana yang susul menyusul.

Jumat, 06 Desember 2013

Arti Sebuah Perpisahan

Kali kedua melepaskan si sulung pergi menginap di rumah nenek dalam kurun waktu satu bulan.. Terasa sekali perihnya..

Kali pertama E-boy pergi ketika sehat dan sangat ceria. Waktu itu terlintas di benak saya "oke, merawat bayi satu pasti mudah... aku dan hunny bisa sedikit pacaran". Rupanya pemikiran itu naif sekali. Ketika malam datang... E-baby berubah menjadi sosok bayi yang sangat tidak kami kenali. Tangisannya begitu memilukan. Menjerit-jerit, muka memerah. Disusui pun tidak menghentikan tangisannya. Berusaha berontak dan tidak mau tidur. Saat mata akan terpejam, sontak ia menggelengkan kepalanya. Horor tangisan pun kembali dimulai. Begitu itu sepanjang malam.

Saya dan suami kehabisan cara membuatnya tenang. White noise yang kami putar tak meredakan tangisannya. Pagi menjelang, saya meminta nenek memulangkan E-boy. Begitu E-boy pulang, E-baby takhluk dalam kantuk. Tidur nyenyak. Saya hanya bergerak berdasarkan naluri. Saya merasa anak bungsu ini mencari kakaknya. Tidak genap bila tidak ada kakak yang selalu ramai. Kakak yang menyanyanginya, menciuminya, mengajaknya bicara, menjaganya, memeluknya...

Kali kedua E-boy menginap pergi adalah sebuah keterpaksaan. Dalam kondisi sakit dan sedih. Belum sempat kami memberikan hadiah ulang tahun ke-4 kepada E-boy, hadiah berupa penyakit mumps/parotitis/gondongan datang menghadang. Malam setelah kami merayakan ulang tahun E-boy, kira-kira pukul setengah satu dini hari, E-boy terbangun. Saya sedikit curiga saat E-boy memeluk erat ayahnya. Tidak biasanya ia manja begitu. Setelah buang air kecil, E-boy menjatuhkan badannya ke saya.

Menempel erat minta peluk. Saya tanya "kenapa sayang?". Dan E-boy menjawab "sakit bunda". Investigasi singkat saya lakukan. Bagian yang sakit adalah pipi bagian kanan dekat dengan telinga bawah. Asumsi pertama saya mungkin karena sakit gigi. Maklum kue ulang tahunnya kan rasa manis, berwarna coklat. Ayahnya sadis! E-boy disuruh membuka lebar mulut, geraham kiri kanan E-boy ditekan kuat-kuat. Sontak E-boy menangis dan menjerit. Saya tidak bisa protes. Tidak ada pilihan lain... Saya dekap E-baby agar tidak terbangun.

Sekilas saya melihat pipi kanan E-boy yang dirasakannya sakit. Kok tiba-tiba membesar. Membengkak dengan cepat. Nenek masih saja berargumen, mungkin ini mungkin itu. Kepanikan di malam hari ini membuat saya menjerit tegas "ini gondongen deh. ambil paracetamol sirup, takar 5 ml". Kira-kira dua kali kalimat itu saya ulang. Suami cukup mengerti kapan saya tidak bisa dibantah. E-boy sempat tak mau meminum obatnya. Ya! Karena obatnya berasa ajaib. Rasa mint dengan warna hijau apel. Kami membujuknya untuk meminum habis paracetamol tersebut.

Sepanjang malam saya tidak bisa tidur. Saya browsing sampai kepala dan mata terasa hampir lepas dari posisinya. Benar saja. Keesokan harinya, bengkak di pipi E-boy makin besar. Saya takut adiknya, E-baby, tertular juga. E-boy sedih sekali. Bukan karena sakitnya tetapi karena tidak boleh dekat-dekat dengan adik. Dengan bujukan ringan, E-boy pergi menginap di rumah nenek selama dua hari. Sungguh pilu hati saya. Menyesal lantaran tidak memberikan imunisasi MMR kepada E-boy. Saya memang ceroboh dan menyepelekan penyakit ini.

Pesan saya kepada nenek adalah: "Paracetamol diminumkan kalau panas sekali atau Erdi rewel akibat rasa sakit. Makanan dan minuman yang rasanya kecut harus dihindari". Dari pagi hingga sore, E-baby masih tenang. Saat saya dan suami menelpon E-boy (tentu suaranya dikeraskan), E-baby seakan mencari sumber suara. Tengok ke kanan dan ke kiri, tetapi bayangan mas-nya tidak ditemukan. Malam harinya? Episode nangis jejeritan semalam suntuk kembali hadir. Parah! Lebih parah dari pengalaman sebelumnya.

Keesokan harinya, perasaan saya makin limbung. Tidur kurang. Akhirnya saya membaca-baca dan menemukan sebuah istilah attachment theory. Rupanya bagi E-baby, satu paket itu artinya ayah-bunda-mas Erdi. Di malam kedua, saya punya trik tersendiri mengakali E-baby yang kehilangan E-boy. Apakah itu? Yaitu dengan menidurkan E-baby di tempat mas-nya biasa tidur. Menggunakan bantal-guling mas-nya. Dan malam itu pun saya dan suami bisa tidur.

Ketika E-boy pulang, E-baby tampak gembira. Sungguh hati saya masih sedikit perih. Penyesalan dan rasa tak berdaya menggelanyut. Menyesal karena tidak memberikan imunisasi MMR. Tak berdaya karena tak bisa merawat anak yang sedang sakit. Lega dan sedikit tak ikhlas ketika E-boy pulang, yang pertama dipeluk dan dicium adalah adiknya... Sedangkan saya menjadi urutan kedua. Duuuhh.... Bunda pun sangat rindu Nak... Betapa berartinya kesehatan dan kebersamaan. Perpisahan ini mengajarkan saya untuk lebih bijaksana dan berpikir dua kali sebelum memutuskan sesuatu...

Senin, 28 Oktober 2013

Apa yang Saya Syukuri Pagi ini

Bagai mimpi bisa mengurus dua anak seorang diri tanpa bantuan, entah itu orang tua/mertua/asisten rumah tangga/baby sitter. Di saat suami harus berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam (bukan sekedar pulang lebih sore), tentu jungkir baliknya terasa. Sangat terasa malah. Lelah dan stres-nya bagai di ubun-ubun. Ini lah yang dinamakan ujian kesabaran.

Pagi ini begitu damai, tidak ada E-boy yang mengikuti saya di dapur. Cukup aneh sebenarnya. Hening yang harus diwaspadai. Lalu saya pun teringat E-baby yang saya tidurkan di kamar, tidak di baby crib. Ingatan itu cukup membuat saya berlari ke kamar. Ketakutan sesuatu terjadi pada E-baby jelas ada. Dan apa yang saya temui??

tidur ya dek... jangan menangis...

memandang dengan penuh kasih sayang

Air mata segera menyeruak saat saya mendapati pemandangan seperti foto di atas. Saat saya tanya "Erdi sedang apa?". Jawabannya sederhana namun sangat mengharu biru. "Jaga adek, adeknya kasihan gak bisa apa-apa". Hiiiiiksss... rasa syukur kepada Allah tiada henti. Betapa banyak kemudahan yang kami rasakan sejak awal kehamilan.

Semoga saja kakak-adek ini selalu rukun. Saling membantu, saling menjaga, tidak merepotkan dan memusingkan orang tuanya. Terlebih-lebih bunda-nya ini. Mari bekerja sama Nak-Kanak... Mari menciptakan lingkungan yang penuh kebahagiaan.

Kamis, 24 Oktober 2013

Sabar yaaaa Nak!

Budayakan antri!

Mengajarkan anak untuk antri memang tidak mudah. Antri berkaitan dengan kesabaran seseorang. Minggu yang lalu saya harus periksa kandungan. Niat awal adalah berangkat jam 8 pagi agar antrian tidak terlalu lama dan E-baby tidak kepanasan di kendaraan. Sayangnya karena kesibukan seorang diri (suami kerja), menyiapkan dua anak untuk bepergian itu tidak bisa seperti menjentikkan jari.

Mulai dari memandikan dan menyiapkan bekal, ternyata lama juga. Akhirnya kami baru bisa berangkat jam 9 pagi. Saya bersyukur hari itu ada ibuk yang mengantar dan bisa menjaga E-baby di kendaraan (masih karantina, sesedikit mungkin terpapar dengan manusia lain). E-boy ikut saya ke RS. Saat mengambil no antrian, sedikit kaget. Saya mendapat no 18. Sebenarnya saya sudah ragu. Sanggup ataukah tidak mengantri sepanjang itu...

Tetapi mengingat saya sudah terlambat dua minggu dari jadwal kontrol dan jadwal-jadwal ke depan masih padat, hanya ada satu kata: nekad! Antri di bagian admistrasi hampir membuat frustasi. Panas mentari cukup menyiksa. Orang-orang berjubel. Tempat duduk terbatas. E-boy bahkan berdiri. Saya tidak tega hati sebenarnya.

Dari tiga petugas yang ada, hanya satu yang bekerja sangat efisien. Seorang perempuan muda yang cekatan. Saya emosi saat itu melihat dua petugas lainnya: seorang laki-laki dan seorang perempuan paruh baya. Mengapa? Yang perempuan paruh baya selalu asyik dengan hp-nya, yang laki-laki selalu berpura-pura menjadi dokter. Kenapa saya bisa bekesimpulan demikian?

Pendek cerita berkas saya pernah dibawa ke poli umum oleh petugas laki-laki itu. Hanya karena keluhan saya nyeri/kram di bagian perut. Saat itu saya sudah meminta untuk periksa ke poli kandungan. Itu cerita dulu. Semenjak peristiwa itu yang antri di bagian administrasi selalu suami. Nah kemarin, saya harus mandiri dan menghadapi semuanya sendiri.

Sekitar satu jam saya mengantri. E-boy mulai tampak lelah, berkeringat, wajahnya memerah. Sampai akhirnya saya melihat kursi kosong. Buru-buru saya dudukkan E-boy di sana. Saya? Tetap berdiri. E-boy mengeluh "bunda, Erdi lapar". Duh saya bingung harus bagaimana, tetap mengantri atau menuju toko. Akhirnya saya putuskan menunggu sebentar lagi.

Hanya kalimat "sabar ya Nak, bentar lagi bunda dipanggil". E-boy kasihan sekali. Tidak sedikit pun ia rewel. Duduk manis sambil diam. Sesekali saya peluk dan berujar sekali lagi "sabaaar yaaaa Nak". Sekali lagi. Sekali lagi. Dan entah berapa kali saya berujar demikian. Yang jelas level emosi saya sampai turun karenanya. Padahal semula saya ingin menendang-nendang apa yang ada.

Begitu urusan administrasi selesai, segera saya membawa E-boy ke toko. Yang diminta olehnya hanyalah sebuah bakpao dan sebotol minuman. Ternyata antri menunggu panggilan dokter tidak lama. Hanya 10-15 menit. Ya Allah, sebal sekali saya hari itu dengan bagian administrasi. Tetapi saya berterima kasih kepada E-boy.

Berterima kasih karena kesabarannya telah mengajarkan banyak hal buat bunda-nya. Berterima kasih atas sikap manisnya (meski sempat sedikit berulah di ruang periksa). Dan berterima kasih karena telah menjadi anaknya bunda. Bunda belajar tiada henti karenamu Nak...

Minggu, 20 Oktober 2013

Cerewet yang Positif

Saya membuat pengakuan!
Semakin bertambahnya usia saya, ternyata makin cerewet. Terlebih-lebih ketika E-baby lahir. Bukan berarti saya menjadi orang yang menyebalkan (entahlah bagi orang lain). Setidaknya saya berusaha cerewet dengan cara santun. Kecerewetan saya ini dimulai ketika proses melahirkan dimulai sebulan yang lalu. Ketika itu di rumah sakit, kecerewetan saya bermula di ruang pemulihan. Sedikit-sedikit tetapi rinci dan berulang-ulang.

Tanggal 10 yang lalu, kami sudah membuat jadwal dengan dokter anak. Berencana imunisasi BCG, polio dan hepatitis B. Jangan tanya mengapa jadwalnya acak adul. Satu hal ini sempat terlupa oleh kami. Dan begitu sadar, ada imunisasi yang terlambat, segera kami membuat janji dengan dokter anak sambil mengaduk-aduk informasi dari internet, juga membaca ulang buku Q&A. Akhirnya saya mendapat sebuah pemahaman (teringat kembali) kalau vaksin hidup dan vaksin hidup minimal berjarak 4 minggu.

Berbekal dari informasi tersebut, kami membawa E-baby ke RSIA. Sehingga jadwal yang terlambat tidak mengakibatkan keterlambatan yang lebih terlambat (halah bahasanya.....). Intinya di bulan kedua besok, imunisasi E-baby bisa sesuai jadwal IDAI (ini tiap tahun kok berubah terus yak?!). Datang sebelum jam praktek dokternya, dan sudah mendapat antrian no 8. Hmmmm.... semakin siang semakin banyak antrian yang ada.

Banyaknya anak-anak dan bayi yang mengantri di dokter pasti membuat siapa saja berkurang konsentrasinya. Saat di dalam ruang praktek, kami dibuat panik oleh E-boy. Suster sampai tidak sengaja memencet vaksin BCG dalam suntikan. Terbuang percuma sudahlah satu dosis itu. Setelah pemeriksaan kesehatan, ketahuan muncul granuloma di bagian pusar E-baby (nanti saja membahas satu kata ini ya). Yang membuat saya suka dengan dokter anak pilihan kami adalah selalu memberikan diagnosa dalam bahasa medis.
.
Keluar dari ruang praktek, saya sudah senyum-senyum riang. Saat di kasir, kecerewetan saya kembali muncul. "Sayang, tadi adek dapat berapa suntikan dan berapa tetesan?". Tanya saya kepada suami hanya mendapatkan sebuah jawaban: "cuma suntikan BCG dan hepatitis B". Saya berusaha meyakinkan suami dan diri sendiri apakah benar vaksin polio belum diberikan. Dan ternyata kami sama-sama tidak ingat.

Kemudian saya meminta suami untuk menanyakan suster. Kami pun menunggu sampai pintu ruang praktek terbuka. Dan memang iya, suster dan dokter belum memberikan vaksin polio. Suster senyum-senyum dan meminta maaf keteledorannya pagi itu. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya bila saat itu langsung pulang ketika urusan pembayaran selesai. Keterlambatan jadwal imunisasi bisa menjadi keterlambatan yang lebih terlambat. Atau bahkan tidak lengkap imunisasinya.

Dan akhirnya saya bersyukur dianugerahi kecerewetan ini. Kecerewetan dalam tanda positif selalu menyelamatkan kita dari penyesalan kok. Selamat pagi, selamat berhari minggu, dan selamat mempersiapkan kesibukan buat minggu depan. Semanggaaaaaaaaaaaaaaaat ^_^

Jumat, 04 Oktober 2013

Trauma dan Proses Penyembuhannya

Saya tidak pernah menyadari sebelumnya. Pemisahan ibu dan bayi yang saya alami tahun 2009 lalu ternyata meninggalkan trauma yang cukup besar. Trauma itu mengendap dalam alam bawah sadar. Proses kelahiran yang diluar rencana. Rasa sakit yang luar biasa. Dan saya sebagai seorang ibu adalah orang terakhir yang tahu wajah bayi saya.... Ya... itu adalah awal mula rasa trauma itu. Pada perjalanan selanjutnya trauma yang tidak saya sadari itu berkembang menjadi baby blues syndrome (bisa menjadi postpartum depression).

Enggan rasanya merawat bayi. Dukungan suami dan ibu untuk tetap berusaha menyusui saya rasakan sebagai tekanan. Hingga akhirnya bayi yang bingung puting itu pun selamanya mendapatkan ASI via botol. Ya! Saya menyerah dalam usaha menyusui langsung. Baby blues syndrome tidak terlalu lama bercokol. Minggu demi minggu berikutnya saya berhasil melakukan ikatan batin dengan bayi saya. Tetapi rasa gagal sebagai ibu (gagal menyusui) selalu menjadi momok. Menyebabkan rasa rendah diri dan berakhir dengan macetnya produksi asi (selain karena faktor kelelahan dan bebas stres lainnya).

Keberhasilan meningkatkan produksi ASI membuat rasa percaya diri kembali pulih. Trauma itu sembuh? Kalau kita tidak tahu apa penyakit kita,,, apa lantas kita bisa mengobatinya?? Trauma itu hanya ditidurkan di alam bawah sadar. Cerita selanjutnya meloncat ke proses kelahiran anak kedua. Selama di RS, trauma itu perlahan-lahan muncul. Melihat si sulung yang begitu manis, pengertian, penurut, tidak rewel, dan mau bekerja sama dengan nenek di rumah... membuat saya trenyuh.

Air mata demi air mata mengalir begitu saja selama di RS. Duh... mengapa harus mengalami perpisahan lagi dengan anak sulung?? Air mata kembali berlanjut ketika sampai di rumah. Saat si sulung rewel minta dimandikan bundanya. Waktu itu saya baru saja mandi dan mencuci rambut. Rambut saya masih basah. Setelah si sulung rapi dan wangi, tiba-tiba dia mengambil sisir dan hair dyer yang saya pegang.

"Bunda, Erdi aja yang ngeringkan. Rambut bunda panjang... Bunda suka ya rambut panjang?". Saya biarkan si sulung bermonolog sambil menyisir kemudian mengeringkan rambut saya bak penata rambut profesional. Saya menangis sejadi-jadinya. Tak ada yang tahu. Menangis adalah salah satu bentuk terapi penyembuhan jiwa. Semua memori asal muasal trauma itu kembali terpampang. Lama saya menangis, sampai rambut saya kering oleh hair dryer. Setelah tangisan itu reda... rasa lega luar biasa! Saya peluk hangat tubuh si sulung sambil berbisik "maafkan bunda ya Nak, maafkan untuk setiap keterbatasan yang bunda punya".

Minggu, 22 September 2013

Nursing Bracelet

Nursing Bracelet (NB) berfungsi sebagai penanda kapan terakhir bayi menyusu kepada ibu. Sebenarnya gelang ini sudah saya ketahui sejak kelahiran E-boy (2009) tetapi pada saat itu rasanya tidak memerlukannya karena status saya yang pada akhirnya sebagai seorang e-ping mom. Saat hamil anak kedua, saya berniat membuat sebuah NB. Sayang sungguh sayang niat itu selalu terkalahkan oleh kegiatan lain dan rasa lelah.

Sampai hari persalinan tiba, NB hanya sekadar memenuhi relung pemikiran. Kemarin lusa kami kedatangan ibu-ibu PKK. Tidak main-main jumlahnya sampai belasan-dua puluhan orang (tidak menghitung oey) dan waktunya mendekati maghrib pula. Kontan saya kelelahan. Karena menggampangkan "kan asip di kulkas banyak, saya tidur aja lah".

Malam itu memang saya tidur nyenyak. Hanya sekali saja menyusui E-baby. Selebihnya suami dan ibuk yang memberikan asip dengan media spuit 10 ml. E-baby rewel luar biasa malam itu. Mungkin juga kelelahan kedatangan tamu yang gak kira-kira jumlahnya. Esok paginya... kagetlah saya!! Pipi E-baby mulai menguning. Panik? Jelas iya!

NB harus segera dibuat nih. Saya pun membongkar kotak penyimpanan berbagai aksesoris dan menemukan bahan dan alat. Saya racik saja sekenanya. Yang penting jadi dan saya bisa disiplin menyusui per 2-3 jam. Bahannya sederhana kok: tali senar yang bisa melar, aneka manik-manik. Alat: gunting dan tang.

proses meracik NB, waktu terakhir menyusu jam 3.15

hasil jadi
A menunjukkan menit, B menunjukkan jam, C sebagai penanda

saat dipakai, kepala tigger hilang setelah dipinjam E-boy

Manik-manik bulat emas menunjukkan menit. Ada tigbuah, yang masing-masing mewakili 15 menit. Sedangkan manik-manik mutiara dan bentuk bintang untuk mewakili jam, jumlahnya 12. Manik-manik berbentuk pipa merupakan awalan, yaitu menunjukkan jam 1. Cukup mudah bukan membuatnya?

Sekarang saya otomatis memindahkan penanda ketika menyusui E-baby. Jadi tidak ada lagi lupa dan mengira-ngira kapan menyusui terakhir. Ketika E-baby keasyikan tidur pun saya bisa membangunkannya untuk menyusu. E-baby ini paling doyan tidur. Agak sulit dibangunkan dan suka marah-marah kalau dibangunkan dari tidur nyenyaknya.

Dicium, dipeluk, dielus, ditepuk-tepuk halus tidak mempan untuk membangunkan E-baby. Cara yang paling ampuh adalah dengan menggelitiki telapak kakinya yang mungil itu. Ah.. perjuangan menyusui masih panjang. Masih banyak tantangan yang perlu ditakhlukkan. Dan saya sangat berharap tidak bertemu dengan yang namanya nursing strike.

Jumat, 20 September 2013

Berita Bahagia

Setelah melalui 39 minggu kehamilan yang mendebarkan, bahagia, dan banyak keluhan.... Akhirnya proses persalinan yang alhamdulilah dilancarkan dan dimudahkan oleh Allah SWT, putra kedua kami lahir ke dunia..

Nama: Zosimos Ecio Riverdi
TTL: Malang, 13-9-'13
Jam: 14.20 WIB
Berat: 3000 g
Panjang: 50 cm
Lingkar Kepala: 35 cm
Apgar Score: 8/9
ASI: YA



Selamat datang Adik Ecio (baca: Esio)... Terima kasih telah menjadi bayi yang luar biasa. Membawa banyak kebahagiaan buat kami semua. Saat ini saya masih mencari ritme harian. Masih adaptasi dengan semua perubahan ini. Cerita saat persalinan dan selama di RS (pengalaman rawat gabung, dll) akan dituliskan kemudian.

Salam,
Vera

Minggu, 01 September 2013

Petualangan Hebat

Hai.. Hai..
Rasanya sulit sekali mendapatkan waktu duduk santai tak terinterupsi sepanjang 2-3 bulan ini. Bukan karena sok sibuk atau sok jadwal padat atau sok banyak kegiatan. Tapiiii..... ini dia alasannya:

A Grand Adventure is about to Begin. -Winnie The Pooh

Setiap kali mencoba duduk santai dan menulis beberapa kata, ada yang protes dari dalam diri sehingga hanya jadi kerangka tulisan saja. Fokus yang terbelah-belah juga mempengaruhi konsentrasi menulis. Seru... petualangan untuk menjadi ibu dari dua anak ini sangat hebat. Semoga di lain hari saya menemukan kesempatan untuk menuangkan semuanya.

Doakan Kami Ya...

Jumat, 23 Agustus 2013

Pengalaman Luar Biasa (Mengajarkan Puasa)

Ternyata kesibukan ramadhan dan lebaran kemarin hanya menyisakan sedikit waktu untuk bisa duduk tenang di depan komputer. Saya lebih banyak menengok dunia maya dari sebuah telepon genggam kecil. Dan baru dini hari ini bisa sesekali menengok ke dalam diri pribadi. Dari sekian banyak pengalaman menarik 1-2 bulan terakhir, yang paling luar biasa adalah ketika saya mengajarkan anak berpuasa.

Saya tidak sendirian, suami pun berperan. Dan tak kalah hebatnya adalah E-boy sendiri sebagai pembelajar puasa. Kurang lebih kronologis dan tahapan E-boy belajar berpuasa seperti berikut:
Hari Pertama: kami sekeluarga terserang flu, karena hari pertama tidak tega rasanya membangunkan E-boy sahur. Sahurnya pun dilakukan ketika bangun tidur (sarapan) kemudian tidak makan dan minum sampai tengah hari, dilanjutkan tidur siang dan makan kembali ketika adzan maghrib tiba. Mungkin ini bawaan anak yang tidak terlalu fit. Ogah makan tetapi saya memberi kelonggaran... Kapanpun E-boy ingin minum, bebas saja.

Hari Kedua: pola makan dan tidur E-boy masih sama dengan hari pertama. Tetapi di jam 4 sore sedikit rewel sehingga saya pun memutuskan memberi makan sedikit. Namanya anak sakit pasti ada rewelnya, bagus juga masih mau makan. Dan semangatnya untuk ikut berpuasa harus diacungi jempol.
Hari Ketiga: karena kondisi sudah membaik dan hanya tersisa batuknya saja maka E-boy diajak sahur. Eh bangun tidur tetap minta sarapan. Ya sudahlah tidak mengapa. Hari ketiga ini saya mulai memberi pengertian kalau puasa itu tidak makan dan tidak minum sampai adzan. Dan benar saja, E-boy paham. Minta makan dan minum ketika adzan dhuhur. Kemudian dia tidur siang. Jam 4 sore kembali rewel minta makan. Perhatiannya dialihkan dengan menonton dinosaurus dari BBC (Walking with Dinosaurs). Sukses menahan lapar dan haus sampai maghrib.

Hari Keempat: batuk sudah jauh berkurang. Pola berpuasa masih sama dengan hari ketiga. Tetapi di jam 4 sore diajak bermain in line skate. Apa yang terjadi? Ya... kehausan lah! Baiklah, boleh minum sepuasnya Nak... Kami memaklumi masih kecil, belum genap 4 tahun kan?! Dan berhasil berbuka puasa pas bedhug maghrib. Horrrreee....
Hari Kelima: senang rasanya ketika anak kembali sehat. Sudah mulai bisa diajak sahur tetapi meski sudah sahur, sarapan tetap dilakukan. Susah amat menghilangkan kebiasaan E-boy sarapan sesaat setelah bangun tidur. Puasa bedhug-nya lancar meski di jam 4 sore kembali rewel. Tetapi karena sudah paham apa itu puasa maka bocah ganteng ini berusaha menahan lapar dan haus hingga adzan maghrib tiba. Horrreeee ada kemajuan. Saya senang luar biasa. Saat malam tiba, saya timbang berat badan E-boy dan ternyata bertambah 300 gram. Wooooooooaaaaa..... surprise!!

Hari Keenam: dimulai dengan bersahur bersama-sama sambil ketawa-ketiwi kemudian saya memberi pengertian untuk menggeser makannya di jam 9 pagi. Itu pun bukan nasi melainkan dua lembar roti tawar. Pemahaman E-boy ternyata puasa itu tidak makan dan tidak minum sampai suara adzan. Walhasil sejak hari keenam ini, saat ashar (kalau pas tidak tidur siang) adalah saat di mana saya harus menyiapkan makanan dan minuman untuknya. Karena saya belum memasak, selembar roti tawar pun menjadi pengganjal perut laparnya.
Tidak terasa sebulan penuh mengajarkan anak berpuasa. Pola makan nya tertata: sahur, sarapan di jam 9, buka puasa di tengah hari, ngemil/makan saat ashar, dan berbuka puasa saat maghrib. Begitu terus setiap hari. Tanpa sadar setelah bulan ramadhan berlalu.... E-boy masih tetap di pola makan biasanya. Berteriak kegirangan saat mendengar adzan lalu meminta makan.

Hingga hari ini, E-boy masih ingin berpuasa. Lucu ya... Oia, ada taktik E-boy yang membuat saya tidak habis pikir. Di sela-sela menahan lapar, E-boy melafadzkan adzan sendiri lalu berkata kepada saya "sudah adzan loh bunda, ayooooo berbuka puasa". Antara takjub dengan idenya dan juga merasa gemas maka saya pun menjelaskan bahwa adzan yang dimaksud bukan dari adzan yang kita kumandangkan sendiri tetapi menunggu seruan adzan yang terdengar dari masjid. Cukup alot juga waktu itu menjelaskannya tetapi pada akhirnya E-boy paham kok.

Tidak sabar bertemu ramadhan tahun depan! Semoga kita semua masih ada kesempatan bertemu dengan bulan seribu berkah itu yaaa... Aamiin YRA.

[cerita menarik versi E-boy bisa dibaca di sini]

Jumat, 24 Mei 2013

Berkawan dengan Stres

Tidak bisa dipungkiri, hidup selalu berdampingan dengan yang namanya stres. Kadarnya saja berbeda-beda. Dan saya ada di titik kulminasinya. Jujur diakui, saya jadi mudah marah. Terlebih menghadapi kelucuan E-boy. Tidak! Tak ada anak yang nakal dan bandel! Pelabelan semacam itu lah yang justru membentuk anak menjadi nakal, bandel, serta tak terkendali.

Kondisi di titik kulminasi stres, tidak hanya meruntuhkan kekuatan psikis-emosi. Tetapi fisik pun terseret dalam kondisi paling dasar. Sistem kekebalan tubuh ada di zona terbawah. Sudah seminggu ini saya terkena Urticaria/Kaligata/Biduran. Bukan gatal saja yang terasa, disertai sesak nafas, pun pada akhirnya terserang flu. Membuat saya berteriak pada E-boy siang ini.

Menyesaaaaal sekali!! Toh anak ngompol kan wajar. Mau ngompol siang kek atau malam sekalipun, itu masih kisaran wajar di usianya yang belum genap 4 tahun. Lalu mengapa reaksi saya sedemikian rupa teriaknya?? Yaaaaaa! Ini semua karena stres yang hampir-hampir tak bisa saya atasi. Bagaimana solusinya? Doa saja tidak cukup. Perlu pengalihan! Perlu penyegaran!

Di posisi saya sekarang, penyegaran tidak mungkin dilakukan. Tak ada tujuan pasti. Tak ada alat angkut. Memaksa menggunakan angkot? Bisa-bisa bukan penyegaran tapi tambahan penyakit susah nafas! Yang bisa dilakukan adalah sekedar curhat di media ini sambil mendengarkan berbagai genre musik (asal bukan dangdut). Saya pastikan ini bukan curhatan biasa...!

Mau tahu teknik pengalihan yang saya lakukan? Teknik ini saya ingat dari pesan seorang guru ketika duduk di bangku SMA. Jaman dulu beliau bercerita kalau punya hobi mengoleksi berbagai macam dan corak alat tulis. Ketika stres dan kejenuhan datang, semua koleksinya dikeluarkan, dibersihkan, dan kemudian ditata kembali. Dulunya saya mencontek teknik tersebut.

Berhasil? Tentu dong!! Pooh-pooh saya itu sangat menghibur. Membuat saya cerah kembali meski permasalahan yang membuat stres itu masih tetap ada. Tetapi dengan suasana hati yang segar, stres itu tidak terlalu menyiksa bahkan solusinya pun diketemukan. Sekarang, ketika saya sudah menjadi seorang ibu.... koleksi pooh tersimpan jauh di lokasi tersembunyi.

Saya tak leluasa lagi mengaksesnya. Lalu pengalihan model apa yang bisa dilakukan??? Ternyata jawabannya adalah aktivitas bersama anak. Kami mempunyai kecintaan yang sama. Berolah imajinasi dengan lego. Kegiatan yang tak kalah serunya adalah menata kembali kepingan lego yang ada. Menghitungnya dan memastikan tidak ada satupun yang hilang.

Teknik pengalihan pikiran dari stres menggunakan kepingan-kepingan lego dan melibatkan anak ini diluar dugaan dampaknya. Istilahnya sih double power lah ya... Anak senang dan kemampuannya dalam mengklasifikasikan barang menjadi terasah, plus kekuatan otot-motoris halusnya semakin maju pesat. Saya kembali ceria, tidak lagi gampang marah. Selalu ada cara untuk menyiasati kawan kita yang bernama stres itu.... Bagaimana cara Anda berkawan dengan stres? Semoga curhatan ini menginspirasi, Selamat berakhir pekan dengan bahagia!

Selasa, 14 Mei 2013

Sesosok itu....

Dulu,,,
Ketika saya masih sangat belia, tepatnya kanak-kanak. Keluarga saya sering kali menerima tamu. Terkadang tamunya tidak tahu waktu. Bisa pagi buta, bisa tengah malam, bisa kapanpun. Sebenarnya saya cukup terganggu. Jam istirahat atau jam belajar menjadi terdiskon. Area privasi tersenggol juga tatkala membantu mama menyiapkan aneka suguhan (kadang saya menolak! tipe anak pemalas sih).

Sudah direpotkan dengan berbagai suguhan dan senyum manis sepanjang menerima tamu, eh tamu tersebut terkesan buru-buru dan tidak kerasan. Saya menyimpulkan dari gelagat istri sang tamu yang selalu mengingatkan sudah berapa jam di sini, sudah jam berapa sekarang, harus ke tempat lain, dan seabrek alasan lain. Itu adalah sesosok yang kurang saya sukai di masa kecil yang terbawa hingga sekarang.

Oleh sebab itu, saya terbentuk menjadi seorang Vera yang membutuhkan sebuah janji terlebih dahulu untuk bertemu. Dan berusaha bertamu di jam-jam yang enak. Menempatkan diri dengan melihat situasi apakah empu rumah sedang repot atau tidak. Apakah anak-anak pemilik rumah terganggu atau malah senang dengan kehadiran kami. Menjaga agar kehadiran kami tidak sangat menganggu.

Namun,
Tidak semuanya berjalan seperti yang kita mau. Sesosok itu, sesosok yang kurang saya sukai itu menjelma dalam diri saya akhir-akhir ini. Dengan tidak adanya kendaraan dalam menyelesaikan segalah urusan, saya dan suami harus pintar-pintar membagi waktu. Naik angkutan umum maupun meminjam kendaraan adalah sama-sama pilihan yang tidak mengenakkan.

Waktu terbuang percuma di jalan. Sehingga dalam satu hari, demi menghemat energi dan waktu serta BBM, saya harus mengatur 5-8 target tujuan. Sukses semuanya? Tentu tidak!! Satu hingga tiga target bisa meleset. Ada banyak faktor. Dan saat di satu target, saya berkali-kali melirik jam. Membuat kalkulasi waktu, perjalanan ke target berikutnya membutuhkan berapa menit dan waktu singgah berapa menit.

Sungguh menyebalkan!! Beban tersendiri loh mengucapkan "sayang, sekarang sudah jam 3". Meski urusan belum selesai, harus dikemas secepat mungkin. Untungnya suami saya adalah tipe yang paham "kode". Tidak perlu saya mengulang dua-tiga kali sehingga kesan buru-buru dan tidak kerasan di sebuah tempat menjadi minimal. Semoga semua ketidak-nyamanan ini segera berlalu...


#Yang masih galau

Senin, 08 April 2013

Berpetualang di Galeri Raos Batu

Dikelillingi oleh lukisan-lukisan menjadi kebiasaan selama 6 tahun terakhir. Berbagai pameran lukisan sekitar Malang-Surabaya sudah dinikmati. Mulai dari acara pembukaan pameran lukisan yang biasa-biasa saja hingga acara yang rada ekstrem semacam mempertontonkan body painting dengan model perempuan telanjang adalah lumrah.

di depan galeri, susah berpotret di sini karena posisinya di pinggir jalan

Darah seni (terutama seni lukis) mau tak mau menurun juga pada E-boy. Belum genap tiga tahun, E-boy bermain-main dengan cat minyak. Menghasilkan beberapa lukisan dalam kanvas berukuran kecil. Rasanya tak genap bila tidak mengajak si ganteng E-boy ke sebuah pameran seni. Kebetulan ajakan ke pameran seni datang dari neneknya E-boy.

Tanggal 23 Maret - 6 April 2013 yang lalu kami mendatangi pameran seni di Galeri Raos yang terletak di Jl. Panglima Sudirman no.6 Batu. Gratis! Hanya perlu menyisihkan uang Rp. 5.000,- untuk membeli katalog. Berikut dokumentasi yang berhasil didapatkan:

suasana di dalam galeri, tenang ya (padahal ramai juga pengunjungnya)

E-boy dan lukisan berjudul "Melihat wajah sejarah"

"Cerita Payung"
Entah mengapa hasil jepretan suami tidak sebagus biasanya. Padahal kamera dalam kondisi fit. Hasil foto-foto beberapa menit sebelumya masih bagus dan sangat tajam. Saya berasumsi mungkin karena pencahayaan di ruangan galeri ini yang mempengaruhi hasil jepretan kamera.

Pertama kali memasuki galeri, pandangan mata saya jatuh ke seorang gadis berpayung. Segera saya meminta suami untuk memotretkan saya dan E-boy di depan gadis berpayung. Tidak menyangka hasilnya begitu seram. Gadis tersebut seperti penampakan ya?! Ternyata inilah yang disebut seni instalasi. Dari lukisan dua dimensi digabung dengan payung (benda tiga dimensi) menghasilkan sesuatu yang seolah-olah hidup. Bravo! Suka sekali dengan karya Mas Iwan Yusuf ini.

Saya kutip tulisan menarik dari katalog:
Rumah adalah tempat kita bernaung. Tempat berlindung dari terik matahari dan curah hujan. Namun tidak sekedar itu saja, rumah merupakan ruang untuk mempersatukan keluarga. Membangun sebuah suasana untuk saling menyatu dan berbagi. Sumringah dan buramnya rumah tergantung pula bagaimana si penghuni dalam 'mewarnainya'.
Apapun bentuk rumahnya, semua hanya mengacu pada satu titik, rumah itu selayaknya mampu membangun suasana yang menyenangkan dan menenangkan.

Yang jelas seharian itu bisa mengobati kerinduan saya akan sebuah pameran seni. Sudah hampir 4 tahun tidak bergentayangan di dunia ini. Karena proses kehamilan-melahirkan-menjadi ibu baru. Senang bisa kembali memulai berpetualang ke pameran seni lagi. Semoga beberapa hari ke depan bisa menuliskan tentang pameran lukisan di Gedung Kesenian Malang, dalam rangka hari ulang tahun Kota Malang (yang semakin sesak). Sangat ingin mengunjungi acara tersebut! Ada lukisan nenek E-boy loh. Berdoa saja agar kesehatan saya kembali membaik. Mohon Doa-nya yaa Teman...

[cerita lengkap seharian ini bisa diintip di Berlibur Sederhana dalam Bahagia]

Jumat, 22 Maret 2013

Berkunjung ke Pameran Reptil

Bertepatan dengan hari jumat, hari di mana saya biasanya melakukan akhir pekan... Lho?? kan masih jumat siang menjelang sore? Buat saya, hari sabtu dan minggu itu lebih enak di rumah karena biasanya jalanan macet. Membuat acara keluarga menjadi tidak nyaman dan cenderung melelahkan.

Sudah lama sekali tidak menghabiskan akhir pekan di mall. Kebetulan kemarin saya membaca informasi tentang adanya pameran binatang di MOG di sebuah situs berita nasional. Saya sama sekali tidak tahu binatang apa saja yang ada. Beruntung bisa merayu bapak-ibuk sehingga bisa pergi beramai-ramai ke sana.

Kaget juga setelah sampai di MOG. Ternyata pamerannya spesifik untuk reptil. Waah.. sudah terlanjur di sini. E-boy juga antusias sekali. Sayang, suasana masih sedikit sepi. Padahal pameran ini berlangsung mulai 20 Maret hingga 24 Maret 2013. Beberapa hasil jepretan kamera bisa ditengok di bawah yaa....

cukup sepi kan suasananya?

iguana merah yang kata suami amat sangat tidak peduli kehadiran manusia, didekati tetap saja memejamkan mata, membuka mata sebentar dan kemudian mememjamkan mata lagi

ular ini sangat besar, beratnya mencapai 80 kg.. wajar kalau hanya ditempatkan di terarium saja

kura-kura mini yang harganya bikin kepala puyeng (1,7 jt), untung E-boy tidak memintanya

prairie dog, saya tidak bisa mendapatkan hasil jepretan yang bagus, dia aktif bergerak tampak stres

common snapper yang kata suami (lagi-lagi) bisa bertumbuh sangat besar (sekitar 50 cm) dan bila menggigit bisa membuat jempol putus (mungkin lidahnya bisa bergerak fleksibel seperti cacing, silakan browsing sendiri)

tidak ingat nama hewan ini (maaf)

kiri: savannah monitor (savmon), kanan: tegu

proses ayah dan anak penasaran dengan makhluk-makhluk ini, didekati, dilihat, akhirnya dielus juga hihihihi...

kepala E-boy dicium savmon (seolah-olah kok)

aksi melantai duo E-boy dan savmon

anak pemberani!

kadal berduri inceran suami, tidak membeli karena suami sudah tidak punya waktu memeliharanya

saya, E-boy, dan sugar glider yang teramat imut

E-boy ingin berfoto dengan sugar glider di pundak (terkabul nak!)

Waaah... luar biasa siang menjelang sore tadi. Banyak pengalaman!! Kulit savmon yang teraba sangat unik. Corak motif kulit reptil ini luar biasa semua. Di antara jajaran reptil, saya cukup beruntung menemukan landak mini dan sugar glider. Ingin rasanya mengadopsi sugar glider yang imut itu. Tetapi harga dan segala kebutuhannya belum tersedia. Jadinya hanya sekedar berfoto dan mengelus-elusnya saja. Koko dan Cece pemiliknya pun sangat ramah...., saya dan E-boy dikiranya adik-kakak (hihihihihi kejadian lagi).

E-boy bersemangat mendorong troli belajaan nih
Akhirnya saya membawa pulang seekor landak mini betina yang salt and pepper. Tentunya setelah transaksi adopsi, saya harus menitipkan dulu di pemilik sebelumnya karena akan berbelanja mingguan dulu. Coba lihat foto di atas, E-boy bersemangat mendorong troli. Hatinya girang luar biasa berkenalan dengan begitu banyak hewan dan berhasil memiliki seekor landak mini yang lucu, imut dan menggemaskan. Kami memberinya nama Landak Coco (cara perawatannya klik di sini).

Ini cerita akhir pekan kami yang membahagiakan... Semoga akhir pekan Anda semua demikian adanya. Sampai jumpa di cerita berikutnya, terima kasih sudah mampir di sini.